Dalam
keadaan tergesah-gesah kuparkir sepeda motorku. Rambut masih basah dan kocar
kacir. Ini karena aku bangun nyaris kesiangan. Di bawah pohon mangga yang
rindang sepeda motorku ku biarkan berdiri dengan dua kaki. Para siswa telah
berbaris rapih. Tiga orang siswa perempuan yang cantik sudah berada di depan
siap untuk memimpin senam caka-caka. Senam yang berasal dari Palu ini sedang
digandrungi dimana-mana. Tak terkecuali di desaku yang masih tergolong udik.
Ketenaran tarian poco-poco yang asli dari Manado kini terbenam. Sudah
tergantikan senam atau tarian yang sedikit erotis ini. Rasanya tidak patut
senam dengan dominasi gerakan pantat ini dibawa ke dalam lingkungan anak-anak
yang masih begitu polos. Dengan sedikit malu-malu ku langkahkan kaki menuju
kantor kepala sekolah. Di situlah kami para
guru mengisi daftar hadir.
“ser,
ada rumah yang terbakar.” Seorang siswa sedikit berteriak sambil menunjuk ke
arah kampung seberang yang tak jauh dari desa kami. Aku tak mengubris. Aku harus cepat-cepat supaya tidak kepergok
kepala sekolah karena datang terlambat 10 menit.
Akhir-akhir
ini aku memang sering tidur setelah ayam berkokok di tengah malam. Banyak guru
yang memintaku mengerjakan yang seharusnya mereka kerjakan. Guru-guru yang sedang
kuliah terpaksa meminta bantuanku karena mereka tak sanggup mengerjakan
tugas-tugas dosen. Sungguh ironis.
“Ser,
coba lihat. Ada yang kebakaran,” Siswa bernama Kifli itu mendesak. Masih tak
kupercaya. Kadang-kadang siswa di sekolah ada yang suka mencari perhatian
dengan cara seperti itu. Meskipun kurang
percaya, kupikir tak ada salahnya melihat apa yang ditunjuk oleh si Kifli.
Aku
urungkan niat mengisi daftar hadir. Kepala sekolah rupanya tak ada. Tak ada
hartop hijaunya. Pasti dia sakit.
“Ser,
ada rumah terbakar.”
Kulihat
kearah siswa yang terus menganggu itu. Senam baru saja dimulai. Mataku
terbelalak keheranan sebagian siswa melihat ke arah yang ditunjuk. Sejurus
kemudian pandanganku membeo pandangan mereka.
Asap
mengepul dan menjulang tinggi ke langit. Asap putih kehitaman. Tinggi jauh ke
atas. Mendadak aku terpikir rumah kami. Asap itu nampak berasal dari area Aer
Tondei. Ya Aer Tondei. Di kompleks situlah rumah kami berada. Tak sampai
hitungan ketiga aku sudah di atas sepeda motor lagi. Segera kuhidupkan dan
dengan cepat menyusuri jalan bebantuan dan berkerikil yang menurun. Tak sempat
aku pamitan. Tas yang berat tak sempat ku letakan di meja guru. Ku teringat
rumahku. Banyak barang berharga. Antara lain buku-buku, sertifikat,
ijasa-ijasahku.
Di
perbatasan kampung Tondei dan Tondei Satu, tepatnya di rumah hukum tua, aku
hentikan sepeda motorku sejenak.
“Vian!
Vian! Sepertinya ada rumah yang terbakar,” kataku sambil ngos-ngosan. Padahal
aku berlari dengan sepeda motor.
“Tidak.
Itu bukan rumah. Itu…ada seorang kakek yang sementara membakar rerumputan
mungkin. Dia berencana akan menamami lahan itu dengan berbagai jenis umbi.
Kemarin aku sempat bicara dengannya,” Jawab pria bujangan dengan tenang.
Orang
di sekitar rumah hukum tua yang kebetulan berkerumun terlihat dilayani penjual
sayur dan tahu serta nampak tenang-tenang saja. Tapi aku kurang yakin dengan
ketenangan mereka. Ketenangan itu mungkin disebabkan ketidaktahuan.
Aku
tancap gassepeda motorku melewati jalan berlubang. Badan sepeda motor bersuara
ribut. Tapi tak kupedulikan. Gas sepeda motor terus ku pacu. Saat mencapai di
depan SD Inpres, terlihat asap sangat tinggi. Tapi bukan dari rumahku. Sekarang
terlihat asap itu bersumber dari gereja. Gereja! Jangan! Gereja itu belum
selesai. Kenapa terbakar? Sekarang sepeda motor melewati rumah. Nampak
kerumunan orang memenuhi jalan. Juga di depan rumahku. Tapi tak terjadi sesuatu
buruk dengan rumahku. Dari kejauhan
terlihat rombongan sepeda motor dengan kecepatan tinggi.
“Kebakaran!
Kebakaran! Rumah tante Unggu terbakar!” pengemudi berteriak panik. Dengan
kostum rapih aku melesat menuju ke gereja. Asal asap kini terlihat berasal dari
rumah kostor yang berdiri di belakang gedung gereja. Beberapa sepeda membuntuti
dari belakang. Kami terlihat dan terdengar seperti sedang balapan. Raungan
sepeda motor memperburuk suasana. Orang-orang di tepi jalan terlihat semakin
panik. Ibu-ibu dan gadis-gadis perempuan berteriak historis. Ada yang jatuh
pingsan. Tampak begitu menegangkan. Saat tiba di gereja, kelihatan api
membumbung tinggi dari sebuah rumah di kampung baru. Jalan rusak berat dengan
nekad bersama-sama kami tempuh.
Sepeda
motor setengah tuaku ku parkir saja sembarangan di badan jalan. orang-orang
lelaki dewasa berlarian mondar-mandir mengambil air dari selokan. Air yang
sangat sedikit tidak sanggup memadam api. Saat disiram api kian bertamba besar.
Para wanita berteriak-teriak saat si bengis merah melahap rumah kayu berkamar
4. Rumah itu masih baru. Belum lama ditahbiskan oleh pendeta. Semua dinding lenyap.
Tiang-tiang satu persatu tumbang. Para orang dewasa berusaha merobohkan tapi
mereka menemui kesukaran. Kabel listrik terputus dan memancar-ancarkan api.
Dari
kejauhan aku melihat sepasang suami istri berteriak-teriak penuh tangis
berusaha masuk dalam rumah yang sedang lenyap. Beberapa orang beberapa kali
mencoba. Usaha apapun tak dapat menghentikan api. Satu-satunya cara adalah
menunggu sampai si bengis merah kenyang. Dengan begitu perlahan-lahan ia akan
menghilang. Mengetahui itu, para lelaki dewasa menyerah. Semua terduduk lemas
menjadi saksi keberingasan si bengis merah.
Kini
bengis merah telah pergi namun jejak panas masih terasa. Walaupun begitu para
lelaki dewasa berdiri dan kembali menjinjing ember. Disiram mereka sisa-sisa
api. Satu dua orang dengan berani menyusuri rumah yang tercabik-cabik. Bagian
atas yang jatuh membuat tumpukan di lantai. Alas kaki beberapa pria dewasa itu
mencair oleh bara api. Tapi mereka tetap nekad mencari sesuatu. Aku bingung.
Apa yang mereka cari? Tidak sebaiknya pencarian dilakukan setelah api
betul-betul sudah padam. Pasti ada sesuatu yang berharga.
Kini
telah ada 5 pria dewasa di dalam. Dengan menggunakan kayu panjang sebesar
lengan mereka mengorek-ngorek tumpukan. Tiba-tiba seorang pria…
“Oh
Tuhan. Oh Tuhan…kenapa kau biarkan ini terjadi. Dia masih kecil!”
Orang
banyak sontak berkerumun melihat apa yang ditunjuk si pria berperawakan tinggi.
Seorang
pria, belakangan ku tahu dia seorang mantan kriminal, mengangkat seonggok
tubuh.
“Oh
Tuhan! Oh Tuhan! Tuhaaaaaaaaan…!” kerumunan berseru dengan keras seakan-akan
mempersalahkan Tuhan karena menimpahi mereka dengan musibah yang begitu berat.
Tubuh
kecil berwarna hitam karena hamgus diangkat dan dipindahtangankan. Tercium bau
daging pangang. Perut anak kecil itu telah pecah. Isi perut terburai. rupa
tumbuh tampak begitu buruk. Jari tangan dan kaki telah tiada habis ditelan si
bengis. Teganya si bengis. Tak puas dengan rumah, dia juga melahap sebagian
kanak-kanak itu.
“Kain…
kain. “ kata pria yang menggotong tubuh terbakar.
Seorang
pemuda membuka pakaiannya dan merelakannya menjadi penutup mayat si anak. Brian
tewas mengenaskan sewaktu dia bersembunyi di bawah ranjang. Kata neneknya,
dialah yang memberitahu si nenek tentang api pertama kali. Sang nenek yang
telah lumpuh buru-buru di selamatkan ayahnya. Sewaktu ayahnya hendak kembali ke
kamar, amukan api sedang besar-besarnya. Dia berharap anak itu telah
menyelamatkan dirinya. Tapi, kini telah gamblang. Brian memang berusaha
menyelamatkan diri. Hanya saja di tempat yang salah.
Tangisan
kerumunan menggemuruh sampai ke langit.
“Tuhan…dia
hanya anak kecil. Kenapa dia? Kenapa…….?”
Saat
ku lihat jam tangan, aku insaf akan tugasku. Seharusnya aku di dalam kelas di depan siswa. Tak patut aku berada di situ.
Aku melangkah keluar melewati tumpukan manusia berdesak-desakan. Sepeda motorku
kini telah berada di tengah-tengah kerumunan sepeda motor lain. Satu persatu
sepeda motor itu ku pinggirkan.
Ku
putuskan untuk segera kembali ke sekolah tanpa kebut-kebutan. Pikiran masih
terganggu oleh kejadian na’as yang menimpa keluarga yang terhitung seumur
jagung. Brian baru berumur 4 tahun. Kakaknya, yang sulung, berumur 9 tahun.
Pasti sangat berat jika aku yang mengalami pergumulan itu.
Begitu
sampai di sekolah aku ke ruang guru sebentar. Betapa pedas kekesalan mereka
padaku karena keluar begitu saja dari sekolah pasti akan segera pudar saat ku
beritahu tentang kebakaran disertai foto dan video yang sempat ku ambil saat
kebakaran masih sumgringahnya membabat setiap bagian rumah yang cantik itu. Untung,
beberapa bulan lalu, aku sempat mengabadikan rumah itu dalam Hpku. Aku pernah
memiliki impian punya rumah sebagus itu. Rumah itu dibuat sendiri oleh sang
pemilik. Ayah Brian. Namanya Eben.
Seperti
yang aku duga. Waktu kaki satu langkah di ruang guru. Seorang guru telah
bertanya. Ku beritahu mereka mengenai peristiwa yang baru terjadi. Kaget mereka
bukan main. Walau hanya melihat dari video mereka tak bedanya seperti saksi
mata. Para guru berteriak dan membuahkan kegaduhan. Beberapa siswa dari kelas
sebelah berhamburan ikut serta bercambur baur dengan para guru karena
penasaran. Karena garang oleh kelakuan murid yang sudah tak sopan kata-kata
senonoh keluar meluncur.
“Pergi
sana. Binatang kalian!”
Para
murid hanya sedikit menjauh. Masih berharap ada sesuatu yang memuaskan rasa
keingintahuan mereka. Walaupun tak melihatnya videonya, mereka tinggal
mendekat, berharap mendapat informasi dengan mendengarkan indra pendengar.
Akupun menjelaskan. Para siswa terkejut sedih. Beberapa dari mereka masih
saudara dekat keluarga korban amukan si bengis merah.
“Jesika,
Indri dan Fike, kalian boleh pulang skarang. Tengoklah adik kalian.”
Mereka
langsung bubar dan kembali kelas untuk mengambil tas. Sudah itu mereka pulang
dalam keadaan muram.
“Musibah
itu memang cocok untuk mereka,” kata seorang guru perempuan berambut pendek.
Dia memang pernah cekcok dengan keluarga korban lahapan api.
“Kenapa
ibu berkata begitu. Sungguh tak baik berkata seperti itu.”
“Memang
betul. Mereka sudah pantas ditegur. Mereka jahat pada orang tua, anti gereja
dan tak menghormati pemuka agama. Kami sering dicemooh mereka. Tambah lagi,
mereka kurang sosial. Tidak mau bermasyarakat. Mentang-mentang orang berada.”
Tak
tahu apa yang dikata itu benar atau tidak. Tapi sungguh sangat tidak manusia
jika ada seorang menginjak orang lain yang sedang jatuh terperosok dalam
lubang. Sudah jatuh dari pohon tertimpah buah durian pula. Sungguh malang.
Aku
sendiri, bukan baru sekali saja mendengar rumor itu. Memang si bapak adalah
orang yang rajin bekerja. Ekonomi mereka cepat berkembang berkat kepiawaiannya
sebagai tukang kayu. Dia sanggup membangun rumah sendiri tanpa harus bekerja
selama 20 tahun. Ini membuat dia congkak dan merasa tak perlu bantuan orang lain
untuk bisa hidup. Tapi itu cerita yang sudah lewat. Sekarang tidaklah begitu.
Sudah kehilangan rumah. Perkakas pertukangan juga telah hilang tak berbekas.
Anak lelaki yang paling tampanpun ikut menjadi mangsa si bengismerah. Walaupun
begitu umumnya masyarakat bersimpati. Pemerintah dan gereja bekerjasama mengumpulkan uang dan material rumah:semen,
kayu, batu, bata, pasir, tras. Belum selesai pemerintah mengumumkan lewat
pengeras suara, semua material yang diminta serta uang berdatangan. Melebihi
yang diharapkan. Yang tak sanggup memberi uang atau bahan, mereka menyumbangkan
tenaga untuk membangun rumah baru. Tak sampai sebulan rumah permanen 3 kamar
telah berdiri. Rumah kayu telah digantikan oleh rumah beton. Gara-gara itu
sekeluargapun sadar dan secara perlahan mulai bermasyarakat dan bergereja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar